MENELAAH KEMBALI ESENSI SAPTA PESONA
H. Gusti A. Djafar
Ditulis tanggal: 21 April 2014, dilihat: 1088 kali

(Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata (STIEPAR) YAPARI AKTRIPA Bandung/Puket II Bidang Administrasi Umum & Keuangan/ Joining Short Course in Tourism Management University of Waterloo, Canada)

Memasuki Abad 21 ini sektor 3T Telecomunication (Telekomunikasi), Tansportation (Transportasi) dan Tourism (Pariwisata) memiliki peran penting dalam pembangunan. Dalam prosesnya ketiga sektor tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain yang tak dapat terpisahkan. Pariwisata akan menjadi perhatian penulis pada kesempatan ini dimana sektor ini adalah bagian yang sangat krusial, seperti yang pernah diungkapkan oleh mantan Menparpostel Susilo Sudarman bahwa “ Pariwisata sebagai lokomotif pembangunan”. Pernyataan ini kiranya patut menjadi pijakan bagi para pembuat kebijakan (policy maker) dalam menghasilkan rentetan peraturan atau regulasi sehingga akan tercipta pembangunan yang melibatkan pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Perkembangan pariwisata di Indonesia telah menjadi denyut nadi perekonomian nasional, bahkan para pengamat ekonomi mengatakan bahwa pariwisata sebagai invisible export (ekspor yang tidak kentara atas barang dan jasa pelayanan) yang telah memberi keuntungan. Hal ini ditandai dengan terus meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia dari tahun ke tahun, terutama sesudah tahun 1960 dimana sebelum menginjak tahun tersebut turisme internasional belum tampak di Indonesia dan jauh di bawah potensinya.

Menelaah Kembali Esensi Sapta Pesona

Untuk diketahui bahwa Sapta Pesona merupakan nilai inti pokok yang secara nasional sudah dikumandangkan bersamaan dengan Kampanye Nasional Sadar Wisata (KNSW) sesuai dengan Inpres No.3 Tahun 1989. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan citra pariwisata dengan adanya peningkatan peran serta sektoral, peningkatan mutu pelayanan, peningkatan peran serta masyarakat yang mencakup kalangan pejabat pemerintah, pengusaha pariwisata, tokoh masyarakat, cendekiawan, pemuda, organisasi politik, lembaga swadaya masyarakat, media massa dan lain-lain (Musanef, 1996).

Namun sayang Sapta Pesona sebagai dasar bentuk pelayanan dalam bidang hospitaliti yang mencakup: keamanan, ketertiban, keramahtamahan, kebersihan, keindahan, kesejukan dan kenangan kini seolah dipandang hanya sebagai slogan semata. Padahal ketujuh nilai tersebut jika diimplementasikan dalam kegiatan wisata atau kepariwisataan secara optimal akan menjadi pondasi yang membawa kemajuan. Sebagai contoh saat penulis dan beberapa rekan lainnya yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat dalam rangkaian ekspedisi cagar budaya yang ada di Jawa Barat (akhir Juni 20013), di salah satu tempat seperti di daerah Sindang Barang Bogor potensi wisata seperti rumah adat kurang didukung oleh sanitasi serta kebersihan.

Keadaan ini sangat jauh berbeda saat penulis melakukan observasi di sebuah Camping Ground di sebuah danau Ontario, Canada beberapa waktu lalu. Suasana bersih dan nyaman serta dilengkapi dengan fasilitas lain seperti saluran listrik, sanitasi, air, gas dan yang lebih menarik setiap obyek menyediakan postcard (kartu pos) sekaligus perangko dan jasa pengirman. Failitas pos ini dimaksudkan agar para pengunjung dapat sharing pengalamannnya kepada sahabat, kerabat, dan keluarga yang berada di luar kota atau negara. Tentu ini adalah sebuah konsep yang sangat menarik.  

Pentingnya Pengemasan

            Ada yang menarik saat penulis bersama keluarga mendapatkan kesempatan berwisata ke Serawak Malaysia beberapa waktu yang lalu. Sebuah atraksi sederhana bagaimana mengupas kelapa ditampilkan secara menarik. Kegiatan tersebut di kemas secara interaktif sehingga menjadi daya tarik bagi para pengunjung. Para pengunjung pun cukup antusias menyaksikan pemandangan tersebut karena di sisi lain kegiatan tersebut memberikan knowledge. Hal ini segera membawa alam pikiran penulis ke tempat kelahiran di tanah air. Indonesia, dengan sumber daya alam melimpah tentunya jauh memiliki potensi yang bisa digali dan dikembangkan, permasahannya, sudah mampukah kita mengemas (package) dari yang biasa menjadi luar biasa? Ini semua diperlukan pemikiran yang kreatif dan inovatif karena sesungguhnya alam kita sudah dianugrahi oleh Tuhan.

Untuk memajukan pengembangan pariwisata memang tidaklah mudah. Diperlukan langkah-langkah strategis dalam pengelolaannya diantaranya: melakukan kegiatan promosi dalam memperkenalkan objek wisata, adanya transportasi yang mendukung, kemudahan keimigrasian atau birokrasi, akomodasi yang menjamin penginapan yang nyaman, ketersediaan pemandu wisata, penawaran barang dan jasa dengan mutu terjamin dan tarif harga yang wajar, pengisian waktu dengan atraksi yang menarik serta kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan.

            Kepariwisataan di Indonesia pun berjalan bukan tanpa kendala. Lemahnya kemampuan promosi, terbatasnya tenaga-tenaga profesional di bidang pariwisata, kurangnya daya saing mutu produk dan pelayanan, serta masih lemahnya strategi dalam menghadapi persaingan dengan negara-negara tetangga adalah pekerjaan rumah yang paling besar untuk menjadikan pariwisata di Indonesia mampu bertandang di ranah internasional. Apa yang harus kita lakukan saat ini adalah melakukan upaya konkrit yakni bagaimana membudayakan kembali nilai-nilai Sapta Pesona karena pada hakikatnya seorang penikmat wisata sejati akan merasakan apa yang sesungguhnya mereka cari. Jika dibiarkan kurangnya kesadaran akan nilai-nilai Sapta Pesona tersebut, maka akan mengkhawatirkan bahkan akan merusak identitas yang seharusnya dibangun secara positif. Tak hanya itu, pemahaman pariwisata dengan konsep yang sustainable (berkelanjutan) pun harus menjadi dasar dalam merancang sebuah kebijakan, sehingga apa pun bentuk kegiatan wisata tidak hanya semata-mata mengutamakan profit (profit oriented).

Selain itu, kepekaan yang tinggi khususnya bagi para pengelola wisata sangat diperlukan dalam menciptakan kemasan produk wisata kepada calon pembelinya karena seiring dengan perkembangan arus informasi yang cepat (information highway) perubahan profil wisatawan pun akan mengalami perubahan. Secara tidak langsung ini akan berpengaruh pada kegiatan industri pariwisata dan gelombang pembangunan secara nasional.