LIFELONG LEARNING, MENYINARI KEHIDUPAN
Septy Indrianty, M.Pd
Ditulis tanggal: 21 April 2014, dilihat: 811 kali

(Dosen Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata (STIEPAR) Yapari-Aktripa Bandung)

Banyak ungkapan yang sering kita dengar untuk mengisyaratkan bahwa manusia tercipta untuk senantiasa berusaha belajar dan menjalani hidupnya dengan selalu belajar. Belajar dalam konteks luas merupakan proses mencari ilmu yang tidak harus selalu dengan duduk di dalam kelas saja, tetapi bisa dilakukan dimana saja. Seperti yang sudah disuratkan dalam Al- Quran dan Al-Hadist bahwa “Barang siapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan ke surga” (HR. Muslim). Sementara itu, ungkapan lainnya terdapat dalam sebuah pribahasa  “Learn to Live, Live to Learn,” (belajar untuk hidup, hidup untuk belajar) adalah bukti bahwa belajar itu tidak ada matinya dan tanpa ada batasan waktu. 

Pendek kata, kita semua harus belajar mulai dari dalam kandungan ibu hingga ajal menjemput. Begitu pula seperti yang diamanahkan Undang-Undang Dasar 1945 di mana pendidikan sejatinya adalah hak seluruh rakyat Indonesia hingga mencapai suatu titik yang disebut dengan ‘cerdas’. Dalam hal ini, ‘cerdas’ bukan hanya sekedar pintar dan memahami segala sesuatu. Namun, secara konseptual, ‘cerdas’ berarti mempunyai pengetahuan dan informasi tentang dunia serta dapat mengaplikasikannya kedalam perubahan yang lebih baik. Jika saja kita tidak cerdas dalam memilih dan menentukan sikap, maka kita akan tertinggal dengan negara-negara lain yang sudah maju dan berkembang, khususnya dalam segi pendidikan.

Menuju Masyarakat Cerdas

Untuk menjalankan amanah Undang-Undang Dasar 1945,  pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa langkah agar rakyat Indonesia memperoleh pendidikan yang baik, salah satunya adalah dengan mula-mula mewajibkan pendidikan dasar 6 tahun, kemudian direvisi menjadi 9 tahun. Sesuai aturan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 mengenai sistem Pendidikan  Nasional, saat ini pendidikan di Indonesia semakin beragam dan terbagi menjadi tiga jalur, yaitu pendidikan formal, nonformal dan  informal. Dengan mencoba mengikuti program pemerintah tersebut diharapkan rakyat Indonesia akan menjadi lebih baik. Namun seiring dengan pekembangan zaman dan beberapa alasan, tidak semua program-program yang telah dicanangkan pemerintah dapat terealisasi secara optimal. Suatu kondisi dapat dikatakan ‘cerdas’ apabila masyarakat Indonesia telah memperoleh keterampilan yang relevan sehingga dapat dijadikan bekal untuk mencari nafkah, serta dalam benaknya tertanam sikap mental pembaharuan dan pembangunan.

Pemerintah pun terus berperan aktif menjalankan tugasnya dalam memberikan pendidikan yang layak ke seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat perbedaan apapun, baik perbedaan tingkat pendidikan, usia, status sosial, ekonomi, agama, suku, dan kondisi fisiknya. Hingga kini, masih banyak ditemukan masyarakat Indonesia yang buta huruf/aksara. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Mendikbud, menyatakan bahwa pada tahun 2009 sebanyak 5,30 persen penduduk Indonesia masih buta huruf. Tapi adapula hal yang menggembirakan mengenai hal ini. Seiring dengan berjalannya waktu, pemerintah sudah berhasil menurunkan angka buta huruf di Indonesia, salah satunya dengan memberikan penyuluhan dan mendirikan taman bacaan untuk masyarakat yang belum melek huruf/angka.

Dengan adanya program dari pemerintah ini dan tentunya kesadaran dari masyarakat itu sendiri saat ini banyak juga masyarakat yang sudah melek huruf/aksara, meskipun yang belajar itu adalah mereka yang sudah lanjut usia atau bisa kita katakan ‘terlambat’. Namun tidak ada kata terlambat untuk belajar, karena jika kita dapat melek aksara maka kita tidak akan dibodohi oleh siapapun. Seperti dalam istilah ‘lifelong learning’ (belajar seumur hidup) sepatutnya menjadi pondasi dasar dalam kehidupan. Dengan adanya keinginan untuk terus belajar niscaya kehidupan manusia akan terus bersinar dalam kehidupannya sehingga akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, seperti dalam kutipan Al-Quran yang tertuang dalm surat Ar-Ra’d Ayat 11” Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.