Strategi Pariwisata Indonesia Dalam Menghadapi Persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Taufik Hidayat
Ditulis tanggal: 04 Mei 2015, dilihat: 2153 kali

(Mahasiswa Manajemen Pariwisata Semester IV Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata YAPARI-AKTRIPA Bandung)

Seluruh anggota ASEAN yang terdiri dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Thailand, Filipina, Laos dan Myanmar telah menandatangani dan menyetujui kesepakatan melalui MoU (memorandum of understanding) untuk melakukan perdagangan bebas atau integrasi ekonomi di wilayah ASEAN. Indonesia sebagai salah satu negara anggota ASEAN, tentunya tertantang untuk dapat meningkatkan persaingan agar MEA tidak menjadi bumerang bagi program yang telah disetujuinya tersebut. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, Indonesia berada pada peringkat pertama untuk jumlah penduduk terbesar di wilayah ASEAN. Namun sayangnya, jumlah penduduk yang besar tidak dapat menjamin Indonesia untuk bisa unggul pada persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut. Karena jika kita berbicara mengenai MEA, pemikiran kita akan langsung tertuju pada permasalahan kualitas sumber daya manusia yang ada. Lalu timbul pertanyaan, apakah sumber daya manusia di Indonesia sudah mampu bersaing pada tingkat ASEAN?

Fokus pada kegiatan pariwisata, MEA tentunya akan menyentuh sektor pariwisata sebagai target persaingan karena pariwisata telah dinilai sebagai salah satu sektor yang mampu meningkatkan devisa negara dan seluruh kegiatan yang dihasilkan oleh pariwisata selalu bersinergi dengan kegiatan ekonomi. Keuntungan lainnya yang dimilki pariwisata adalah karena pariwisata berdampak ganda (multiplier effect),pariwisata mempunyai jangka penggunaan atau pemanfaatan yang panjang (everlasting time) dan pariwisata sebagai sektor yang hanya memerlukan modal/pengeluaran yang sedikit namunmendatangkan pendapatan yang besar (low budget but high income). Pariwisata di Indonesia sebenarnya telah memenuhi seluruh kualifikasi tersebut, namun nyatanya belum sepenuhnya disadari sehingga pemanfaatan dari ketiga dasar konsep  tersebut belum mencapai hasil yang optimal. Lalu bagaimana strategi pariwisata Indonesia memposisikan dirinya sebagai pesaing terberat di ajang Economic ASEAN Community yang telah disepakati tersebut?

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan sumber daya manusia yang berkompeten di bidang pariwisata. Kompetensi ini dapat dimulai dari memperbaiki semua permasalahan di industri pariwisata baik primer maupun sekunder dan usaha kepariwisataan terkait. Pemilik industri pariwisata seperti perusahaan transportasi, akomodasi, restoran dan catering, biro perjalan wisata, souvenir shop, dan lainnya seharusnya mampu memberikan dorongan pada karyawannya agar memiliki kompetensi dan kemampuan yang berdaya saing tinggi terhadap asing. Peran usaha kepariwisataanpun seharusnya digiatkan dengan memberlakukan sertifikasi kepada setiap pelaku usaha pariwisata, hal ini dirasa penting agar orang-orang yang berkecimpung di usaha kepariwisataan memiliki standar yang sama dalam memenuhi dan melayani kebutuhan wisatawan.

Saat ini, pesaing terberat Indonesia pada sektor pariwisata di kawasan ASEAN adalah Negara Singapura. Mengapa Singapura bisa mengungguli pariwisata Indonesia padahal daya tarik wisata yang mereka miliki lebih banyak unsur buatan manusianya (man made)? sedangkan Indonesia jauh lebih banyak memiliki potensi sumber daya alam yang lebih indah dan dikenal dunia. Kekayaan alam Indonesia terbentang luas dari Sabang hingga Marauke, mulai dari wisata pegunung, bahari, alam, budaya, minat khusus semuanya tersedia di Indonesia. Kelemahan kita hanyalah ada pada sumber daya manusianya, Indonesia masih kekurangan orang-orang yang mampu berfikir keras untuk kesejahteraan pariwisata Indonesia. Kelembagaan pariwisata yang seharusnya diisi oleh sarjana-sarjana pemikir masa depan pariwisata Indonesia malah dikuasi oleh sarjana-sarjana non-pariwisata yang belum tentu paham tentang kondisi kepariwisataan di Indonesia. Maka dari itu, permasalah sumber daya manusia dianggap sangat krusial dan berpengaruh dalam pengembangan sektor pariwisata yang berkelanjutan, ditambah persoalan mendasar mengenai komponen kepariwisataan yang terdiri dari atraksi, amenitas, aksesibilitas, image/citra dan harga (Middleton, 1989 dalam Ricardson dan Fluker, 2004: 50) yang fungsi pengawasannya belum begitu maksimal. Padahal, fungsi tersebut penting dilakukan agar pariwisata Indonesia tetap berada di posisi stabil.

Belajar dari Negara Singapura yang benar-benar memperhatikan sektor pariwisatanya dari segala aspek, seharusnya pariwisata Indonesia mampu mengungguli pariwisata Singapura melalui metode ATM (amati, tiru dan modifikasi), mengingat jumlah penduduk Indonesia yang lebih banyak dan dengan diberikan kompetensi keahlian yang mendukung maka Indonesia dapat menjawab semua permasalahan pariwisata yang selama ini menjadi polemik yang berkelanjutan. Jika kekurangan-kekurangan tersebut dapat segera diperbaiki, bukan hal yang mustahil pelaku pariwisata Indonesia akan mampu bersaing kuat dalam persaingan masyarakat ekonomi di wilayah ASEAN.