TANTANGAN PARIWISATA DALAM MEA 2015
Andzar Akbar Maulana
Ditulis tanggal: 25 Maret 2015, dilihat: 1248 kali

(Mahasiswa STIEPAR YAPARI – AKTRIPA Bandung SEM. IV/Program Studi Manajemen Kekhususan Manajemen Pariwisata)

Masyarakat Indonesia tengah bersiap menghadapai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Program MEA ini bertujuan untuk meningkatkan roda perekonomian serta meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat ASEAN agar mampu bersaing di kancah global. Dilihat dari sektor pariwisata, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki pandangan bahwa sektor pariwisata sebagai sektor penting untuk pengembangan negara Indonesia. Pariwisata memiliki konstribusi yang besar bagi negara seribu pulau ini. Berdasarkan data United Nation World Tourism Organization ( UNWTO ) tahun 2013, tentang World Tourism Rank, Indonesia berada di urutan ketujuh di Asia Pasifik dengan jumlah wisman 8,8 juta.

Banyaknya SDA (Sumber Daya Alam) yang dimiliki negara ini menjadi potensi untuk dibangunnya suatu destinasi baik wisata alam maupun wisata buatan. Maraknya kegiatan di sektor industri pariwisata seperti di bidang perhotelan, restoran, transportasi, biro-perjalanan, guide, souvenir dan amusment menjadi salah satu cambuk untuk menghasilkan lapangan kerja di sektor ini. Dengan kegiatan di sektor pariwisata maka akan menimbulkan multiplier effect di sektor SDM (Sumber Daya Manusia), baik itu pada SDM yang bekerja langsung di sektor pariwisata, maupun di lingkungan masyarakat yang ada di destinasi wisata.

Sebuah pertanyaan besar bagi negara ini, “Sudah siapkah SDM pariwisata Indonesia memanfaatkan peluang di sektor pariwisata dalam menghadapi MEA ini? ” Selain pemerintah, swasta, dan masyarakat, peran lembaga pendidikan, baik itu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ataupun perguruan tinggi (PT) yang bergerak di sektor pariwisata sangatlah penting untuk mencetak lulusan yang memiliki kompetensi tinggi dan handal di sektor ini. SDM yang berkualitas tidak akan terlahir jika tidak ada korelasi yang baik antara tenaga pengajar (dosen/guru) dengan pelajar atau mahasiswa. Maka dari itu peran tenaga pengajar di lembaga pendidikan pariwisata ini harus handal dan berkompetensi tinggi. Dalam kegiatan belajar mengajar, bobot materi yang disampaikan, serta fasilitas penunjang kegiatan belajar harus mendukung sehingga dapat melahirkan lulusan-lulusan pariwisata yang handal dan kompeten.

Tantangan MEA

Komunikasi adalah salah satu syarat mutlak berlangsungnya suatu kegiatan pariwisata, dimana komunikasi yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula. Di dalam suatu komunikasi terdapat aspek bahasa. Aspek bahasa ini juga menjadi suatu tantangan bagi SDM pariwisata ini untuk melangkah menuju MEA. Berkaca kepada negeri tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia, dimana masyarakat di negerinya Siti Nurhaliza dan di negeri seribu satu larangan itu sebagian besar masyarakatnya fasih dalam berbahasa Inggris ( International Language ). Hal tersebut menjadi suatu tantangan bagi lembaga pendidikan yang bergerak di sektor pariwisata untuk mencetak lulusannya yang fasih berkomunikasi dalam bahasa asing, terutama dalam bahasa Inggris.

Selain memperhatikan aspek-aspek di atas, peran lembaga pendidikan juga harus mampu menggalakan, menerapkan, mengimplementasikan program pemerintah, yaitu Sapta Pesona (aman, bersih, tertib, sejuk, indah, ramah dan kenangan) yang menjadi pegangan dalam memberikan pelayanan di sektor pariwisata. Peran serta lembaga pendidikan dalam pengembangan standar kompetensi dan sertifikasi profesi di sektor pariwisata sangatlah penting. Dimana lembaga pendidikan di sektor pariwisata harus mampu mencetak aktor-aktor pariwisata yang berkompetensi secara standar nasional, maupun internasional yang telah ditetapkan standar kompetensinya.

Inilah waktu bagi kita selaku aktor pariwisata, baik itu pemerintah, swasta,  dan lembaga pendidikan yang bergerak di sektor pariwisata untuk berani melahirkan SDM pariwisata yang berkualitas agar mampu mendongkrak pariwisata Indonesia yang bereksistensi tinggi di kawasan ASEAN tanpa dijajah oleh negara kecil yang sumber daya wisatanya kurang. Selain itu masyarakat Indonesia juga harus mampu menanamkan jati diri sebagai masyarakat yang sadar akan wisata agar menjadi pendukung perkembangan pariwista di Indonesia.