MENGEMBANGKAN PARIWISATA PEDESAAN
Lia Afriza, S.E., M.M
Ditulis tanggal: 30 April 2014, dilihat: 759 kali

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata (STIEPAR) Yapari Aktripa Bandung/Puket I Bidang Akademik

Konsep pengembangan desa wisata merupakan upaya yang strategis dalam pembangunan masyarakat Indonesia saat ini. Bahkan sejak kepemimpinan Jero Wacik sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata telah mengusulkan dan mengawasi desa masing-masing untuk dijadikan desa wisata dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku, (Nuryanti, Wiendu 1993). 

Tetap Menjaga Nilai Lokalitas

Berkenaan dengan pengembangan konsep Desa Wisata, penulis berkesempatan untuk menjadi pemateri dalam acara diklat yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Cisarua Kabupaten Bogor (11-25 Maret 2014) untuk memaparkan beberapa tema diantaranya realisasi konsep Wisata Pedesaan dan Pengembangan Ekonomi Kreatif. Konsep pengembangan Desa Wisata pada dasarnya merupakan upaya penggalian potensi yang dimiliki masing-masing desa tanpa merubah potensi lokal misalnya pertanian, peternakan maupun potensi lainnya. Yang paling penting adalah bagaimana dengan potensi yang dimiliki suatu desa dapat memberikan dampak positif misalnya akan memperkaya daerah tujuan wisata yang disesuaikan dengan kondisi desa itu sendiri serta mengenalkan budaya lokal kepada para pengunjung.

Seperti yang diungkapkan oleh Hadiwijoyo (2012), bahwa pengembangan konsep wisata pedesaan sangatlah penting karena berbagai alasan diantaranya:

  1. Desa wisata sebagai sebagai indikator terpenting kemajuan sektor pariwisata, selain sebagai pemasukan nasional melalui devisa negara, juga pebningkatan tarf kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat, khususnya di area tempat wisata. 
  2. Adanya tren wisatawan dunia dimana kepariwisataan haruslah menghargai adat istiadat lokal, melestarikan lingkungan hidup, dan memberikan dampak nyata positif yang bisa dinikmati warga masyarakat di sekitar tempat wisata.
  3. Menyangkut partisipasi aktif masyarakat sebagai ujung tombak sekaligus sebagai pelaku pariwisata.

Acara yang dihadiri oleh beberapa pejabat di lingkungan Disbudpar Kabupaten Bogor dan perwakilan dari 12 (dua belas) Desa yang terdiri dari dari para pengelola dan pemilik daerah tujuan wisata ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa pentingnya memiliki konsep sadar wisata sehingga akan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.

Pengembangan konsep wisata pedesaan juga tengah dilakukan di Desa Cikidang Kec. Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dengan melibatkan  mahasiswa dan dosen, kegiatan penelitian dilakukan untuk menggali potensi di tempat tersebut. Diharapkan melalui kegiatan tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat baik secara ekonomi maupun sosial.

Wisata pedesaan merupakan suatu kegiatan pariwisata di wilayah yang menawarkan daya tarik wisata berupa keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan (kehidupan sosial, ekonomi, adat istiadat masyarakat setempat, arsitektur bangunan maupun tata ruang desa yang khas (Depbudpar, 2001). Dalam pengembangannya diperlukan perencanaan yang tepat agar konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism development) dapat terwujud, yaitu terjadi keharmonisan bagi semua pihak (masyarakat lokal, wisatawan, pelaku pariwisata) serta terjaganya kelestarian lingkungan alam.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam upaya pengembangan pariwisata tersebut adalah dengan tetap menjaga nilai kearifan lokal. Sementara itu terdapat empat pilar pengembangan pariwisata ‘Four Track Strategy’ yang harus dijadikan dasar pijakan yakni:  pembangunan pariwisata diperuntukkan bagi pertumbuhan ekonomi (pro-growth), melalui penciptaan lapangan kerja seluas-luasnya untuk masyarakat (Pro-job), berpihak pada kepentingan masyarakat yang kurang mampu (Pro-poor), dan pembangunan pariwisata yang ramah lingkungan (pro-environment) termasuk pelestarian terhadap nilai-nilai budaya. Jika keempat pilar itu dapat diaplikasikan maka niscaya kegiatan pariwisata akan menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tak dapat terpisahkan.