FENOMENA MODA TRANSPORTASI BARU KOTA BANDUNG DI ERA DIGITAL
Kategori: Umum - Dibaca: 5511 kali

Bandung, Senin (24 agustus) 2015 berlangsung seminar mengenai Fenomena Moda Transportasi Baru Kota Bandung di Era Digital bertempat di Aula Barat ITB dan dibuka oleh Walikota Bandung Ir. Ridwan Kamil. Dalam acara tersebut hadir sejumlah Ketua Asoasiasi dan beberapa anggotanya antara lain Ketua Organda Kota Bandung, Ketua Kobanter bdg, Ketua Asosiasi Pengemudi taksi Kota Bandung dan juga CEO dari berbagai moda transportasi antara lain 8 perusahaan taksi di Kota Bandung dan  perusahaan transportasi wisata.

Pada kesempatan tersebut bapak Khoirul Fajri, S.E., M.M sebagai dosen STIEPAR YAPARI-AKTRIPA Bandung dan Ketua Prodi DIII Usaha Perjalanan Wisata (UPW) yang hadir juga sebagai pembicara menyampaikan materinya tentang kondisi pelayanan dari transportasi yang ada di Kota Bandung khususnya pelayanan taksi dimana sesuai dengan hasil survey data dan jejak pendapat kepada  masyarakat pengguna taksi yg dilakukannya di tahun 2014 ada sekitar 55% dari total masyarakat pengguna taksi yg diminta pendapat memberikan penilaian bahwa pelayanan taksi kota Bandung masih  perlu ditingkatkan sekurang-kurangnya  dapat memenuhi standar pelayanan minimal yang ditetapkan pemerintah dari mulai pelayanan dari pengemudinya, pelayanan kenyamanan dengan adanya fasilitas di armada taksinya, pelayanan penarifan, pelayanan pemesanan dan lain-lain. Disampaikan pula oleh Khoirul bahwa saat ini seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi, maka berdampak pada fenomena pada pelayanan moda transportasi berbasis digital, misalnya dengan kehadiran gojek, grabtaxi, ubertaksi. Namun sayang keberadaanya saat ini mengundang kontroversial di kalangan masyarakat dikarenakan  faktor legalitas dari unit armadanya masih dipertanyakan.

Disinilah diperlukan koordinasi antara pelaku usaha transportasi /asosiasinya dan pemerintah agar tidak ada masyarakat yang dirugikan. Sebagai tindak lanjut perlu diadakannya diskusi dan evaluasi khusus yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Bandung bersama pengusaha taksi, organda, kobanter/pengusaha angkot dan ojek. Khoirul Fajri yang juga seorang praktisi di bidang usaha jasa transportasi khususnya transport wisata untuk jenis minibus (elf/bus) yang selama ini juga sudah merasakan dampak adanya pelayanan berbasis digital tersebut yang dalam operasionalnya tidak menggunakan kendaraan berplat kuning sebagai syarat angkutan umum bukan kendaraan pribadi berplat hitam juga menjelaskan dengan munculnya aplikasi-aplikasi pelayanan pemesanan transportasi darat tersebut sangat bagus. Akan tetapi alangkah lebih baik untuk menghindari kontroversi bila para penggagas aplikasi tersebut tidak menggunakan atau beroperasi sendiri dengan menyediakan armada tanpa melihat Undang-Undang atau peraturan pemerintah yang berlaku. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan memberikan penawaran kerjasama dengan perusahan transportasi yang sudah legal ditambah dengan pemenuhan persyaratan misalnya perusahaan transportasi wajib lolos dari aturan Standar Minimal Pelayanan (SPM) yang telah ditentukan. (KF/TK)




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

  Terkini  
  Terpopuler